Museum Batak

Batak merupakan salah satu etnis yang cukup dikenal di negeri ini. Namun segala kekhususan budaya Batak dan sejarahnya tidak banyak kita temukan untuk mengenalinya secara utuh. Diaspora orang Batak di penjuru tanah air dan dunia juga semakin banyak dan kebutuhan untuk mempertahankan identitas Batak semakin kuat. Hal itulah yang mendasari didirikannya Museum Batak di kawasan Museum TB Silalahi Center ini.

Batak terdiri dari enam puak (sub etnis), yaitu Batak Toba, Batak Angkola, Batak Mandailing, Batak Karo, Batak Pakpak dan Batak Simalungun. Keenamnya memiliki kekhasannya masing – masing, bahkan dari segi bahasa. Perkembangan dunia informasi memungkinkan beragam pendapat dilontarkan mengenai budaya Batak. Hal ini rentan memicu perpecahan bagi persatuan keluarga besar masyarakat Batak.

Dalam museum ini dapat kita kenali segala perbedaan, kekhususan keenam puak Batak tersebut dan juga benang merah filosofi Dalihan Na Tolu yang menyatukannya sebagai identitas Batak.

Selain itu dapat kita lihat juga berbagai peninggalan kuno Batak dari beragam puak Batak, mulai dari kehidupan spiritualnya hingga ke benda – benda yang digunakan sehari – hari. Sifat magis dan kentalnya filosofi hidup Batak bisa kita lihat dalam koleksi Museum Batak.

 

Perjuangan Melawan Penjajahan

Galeri Sisingamangaraja dan Galeri Perjuangan merupakan dua buah ruang pamer yang ada di dalam Museum Batak. Sisingamangaraja XII sebagai pahlawan nasional dari Tanah Batak dapat kita ikuti jejak langkah perjuangannya disini. Kegigihannya dalam puluhan tahun perang gerilya sangat membuat Belanda pada masa itu kewalahan dan hampir putus asa. Namun strategi licik juga yang membuat Sisingamangaraja XII gugur dalam medan pertempuran dan putrinya Lopian terlebih dulu gugur sebagai perisai bapaknya. Kisah emosional ini dapat kita simak secara lengkap dalam panel – panel informasi di Galeri Sisingamangaraja.

Galeri Perjuangan juga mengisahkan kegigihan orang Batak dalam menghadapi penjajah di era pasca kemerdekaan. Beberapa koleksi, penggalan – penggalan sejarah pada masa itu tersusun dengan rapi di galeri ini. Dengan diorama patung Alex Kawilarang, Pejuang Tapanuli, dan Hendrik Spoor dapat kita lihat dengan latar belakang lukisan suasana upaya infiltrasi Belanda ke kawasan Danau Toba.

Dalam museum ini juga terdapat sebuah perpustakaan yang dapat diakses secara publik untuk mengenali budaya Batak. Beragam buku – buku yang merupakan hasil kajian ilmiah peneliti tentang Budaya Batak dapat memerkaya khasanah ilmu pengetahuan masyarakat tentang orang Batak.

Di bagian bawah Museum Batak terdapat sebuah bangsal luas yang dikelilingi patung – patung peninggalan budaya Batak yang disebut Lakefront Museum. Bangsal terbuka ini langsung menghadap Danau Toba dan pengunjung bebas menikmati keindahannya. Jika Anda tertarik untuk mengadakan event di Lakefront Museum, klik disini untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Recommended